Monday, November 10, 2008

Knowledge Management (KM), bisa kita artikan dengan manajemen pengetahuan.
Apakah itu manajemen pengetahuan?
Manajemen ialah suatu cara untuk merencanakan, mengumpulkan dan mengorganisir,
memimpin dan mengendalikan sumber daya untuk suatu tujuan. Sedangkan pengetahuan
adalah data dan informasi yang digabung dengan kemampuan, intuisi, pengalaman, gagasan,
motivasi dari sumber yang kompeten. Sumber pengetahuan bisa berupa banyak bentuk,
misalnya: koran, majalah, email, e-artikel, mailing list, e-book, kartu nama, iklan, dan manusia.
Jadi untuk pengertian manajemen pengetahuan adalah merencanakan, mengumpulkan dan
mengorganisir, memimpin dan mengendalikan data dan informasi yang telah digabung dengan
berbagai bentuk pemikiran dan analisa dari macam-macam sumber yang kompeten.

Menurut www.km-forum.org, KM adalah suatu disiplin ilmu yang digunakan untuk
meningkatkan performa seseorang atau organisasi, dengan cara mengatur dan menyediakan
sumber ilmu yang ada saat ini dan yang akan datang. Jadi KM bukanlah suatu fenomena baru,
tetapi merupakan suatu cara yang menerapkan integrasi antara teknologi dengan sumber
pengetahuan yang kompeten.

Mengatur suatu pengetahuan adalah suatu kebiasaan atau habit. Ketika suatu proses,
keadaan dan aktivitas suatu bisnis para pelaku KM cenderung menggunakan suatu metode
dalam menganalisanya. Dalam proses analisa terdapat sesuatu yang dinamakan siklus/aliran
pengetahuan (knowledge flow).

Dalam sebuah program KM, yang menjadi poinnya adalah sistem pencarian yang akurat.
Apakah Anda pernah mencoba www.google.com? jadi ketika kita ingin mencari tentang suatu
solusi dari masalah tertentu, tinggal kita klik and search, atau ingin mengetahui jalan potong
tercepat? Gampang tinggal klik and search. Atau mau tahu tentang jadwal penerbangan
terbaru? Software agent akan mengirimkan ke email kita. Ada beberapa software yang telah
mendukung KM antara lain: Lotus Notes, Phpgroupware, Phproject, dan MS Project.
Sum: http://www.klasiber.net



APA ITU KNOWLEDGE MANAGEMENT
Diskusi saya awali dengan ungkapan Peter Drucker yang sangat terkenal, yaitu:
the basic economic resource is no longer capital, nor natural resources, not labor. It is and will be knowledge
Ya perubahan dunia ini mengarah ke fenomena bahwa sumber ekonomi bukan lagi dalam bentuk money capital atau sumber daya alam, tapi ke arah knowledge capital. Justru karena knowledge alias pengetahuan ini kedepannya memegang peranan penting, karena itu harus kita kelola.
Organisasi dan perusahaan di dunia ini sebenarnya sudah sejak lama menderita kerugian karena tidak mengelola pengetahuan pegawainya dengan baik. Konon kabarnya di suatu institusi pemerintah, hanya karena PNS yang sudah 30 tahun mengurusi listrik dan AC masuk masa pensiun, sehari setelah itu listrik dan AC masih belum menyala ketika para pegawai sudah masuk kantor. Ya, tidak ada yang menyalakan listrik dan AC, karena hanya si PNS itu yang tiap pagi selama 30 tahun menyalakan listrik dan AC. Bahasa ngoko alus-nya:
when employees leave a company, their knowledge goes with them …
Organisasi dan perusahaan tidak mengelola pengetahuannya dengan baik, sehingga transfer pengetahuan tidak terjadi. Organisasi perlu mengelola pengetahuan anggotanya di segala level untuk:
• Mengetahui kekuatan (dan penempatan) seluruh SDM
• Penggunaan kembali pengetahuan yang sudah ada (ditemukan) alias tidak perlu mengulang proses kegagalan
• Mempercepat proses penciptaan pengetahuan baru dari pengetahuan yang ada
• Menjaga pergerakan organisasi tetap stabil meskipun terjadi arus keluar-masuk SDM.

Nah, sebenarnya yang berkewajiban mengelola pengetahuan itu individunya atau organisasinya? Sebenarnya setiap orang harus mengelola pengetahuan mereka sendiri, karena yang paling berkepentingan mendapatkan manfaat dari pengelolaan pengetahuan itu adalah individu. Ketika semua pengetahuan yang saya dapat ketika bekerja, part time atau menggarap project saya explicit-kan dalam bentuk tulisan. Kemudian saya simpan rapi dan kalau perlu saya database-kan sehingga muda saya cari kembali, ini semua membantu dan mempercepat kerja saya ketika masalah serupa datang. Kalaupun saya pindah kerja, knowledge base yang saya miliki tadi menjadi “barang berharga” yang bisa saya “jual” dalam bentuk skill dan kemampuan ke perusahaan baru.

Pengetahuan itu bisa dibagi menjadi dua:
1. Explicit Knowledge: pengetahuan yang tertulis, terarsip, tersebar (cetak maupun elektronik) dan bisa sebagai bahan pembelajaran (reference) untuk orang lain. Dari contoh di atas, ketika seorang member milis memberi solusi dari buku, maka sebenarnya itu adalah bentuk explicit knowledge.

2. Tacit Knowledge: pengetahuan yang berbentuk know-how, pengalaman, skill, pemahaman, maupun rules of thumb. Nah dari contoh di atas, ketika seorang member milis menjawab berdasarkan pengalaman dia, hasil ngoprek atau nggak sengaja dapat solusi misalnya, itu semua adalah tacit knowledge. Tacit knowledge ini kadang susah kita ungkapkan atau kita tulis. Contohnya, seorang koki hebat kadang ketika menulis resep masakan, terpaksa menggunakan ungkapan “garam secukupnya” atau “gula secukupnya”. Soalnya memang dia sendiri nggak pernah ngukur berapa gram itu garam dan gula, semua menggunakan know-how dan pengalaman selama puluhan tahun memasak. Itulah kenapa Michael Polyani mengatakan bahwa pengetahuan kita jauh lebih banyak daripada yang kita ceritakan












Saat ini, teori Teknologi Informasi (TI) mencoba untuk menjual konsep Knowledge Management (KM). Dari sudut pandang TI, dinyatakan dengan mewujudkan suatu sistem yang dapat mendeteksi berbagai kreasi dari suatu organisasi pengetahuan baru dapat dengan mudah diidentifikasi, siapa orang yang membangun dan atau menguasi suatu pengetahuan yang berguna bagi orang lain, hal ini diwujudkan oleh TI dengan bagaimana caranya agar dapat diakses secara bebas dan cepat.
Dengan konsep database enterprise, yang terus di-update dengan pengetahuan-pengetahuan baru, dapat melayani kepada semua “knowledge workers” sebagai sumber referensi dimana mereka dapat melakukan konsultasi, asistensi, dan pencerahan terhadap pekerjaannya masing-masing.

Karl Albrecht, pada bukunya “The Power of Minds at Work”, menyampaikan bahwa pendekatan database untuk Knowledge Management sangat dimungkinkan untuk gagal dengan beberapa alasan yang sangat fundamental. Hal ini disebabkan dangkalnya pandangan masyarakat luas terhadap pemikiran dan ideologi mengenai “Digital”. Ditunjukkan dengan manusia diperlakukan sebagai elemen dari mesin informasi dalam organisasi pengetahuan dengan anggapan mereka dapat diprogram dan diberi perintah persis seperti elemen dari data.

Beberapa inisiatitor KM sebelumnya merasa frustasi dengan berbagai cara yang mereka lakukan untuk membangun organisasi pengetahuan, hal ini disebabkan karena kurangnya dorongan/rangsangan untuk mendokumentasikan/melaporkan pengetahuan yang didapatkan dari pekerjaan mereka sehari-hari.
Sebagaimana yang sering terjadi pada suatu organisasi TI yang bermula dari paradigma mekanistik. Disisi lain tantangan yang paling berat adalah pada budaya berbagi dibanding dengan teknis. Menurut Karl Albrecht, kita harus belajar dari para antropolog, sosiolog, sejarahwan, musisi, artis, dan penulis daripada kepada para teknokrat. Kita perlu menanyakan beberapa pertanyaan dasar seperti :
• Bagaimana budayawan (primitif hingga saat ini) memiliki rasa untuk berbagi pengetahuan ?
• Bagaimana mereka mengamankan ”icons” dan hasil budaya dari waktu ke waktu dan generasi secara turun temurun ?
• Singkatnya, bagaimana mereka membangun pengetahuan yang dapat memberikan manfaat kepada kebudayaan ?

Implementasi ICT dalam menumbuhkembangkan pengetahuan diharapkan dapat juga berperan sebagai pendukung, memberikan feedback, sekaligus penyeimbang kita sebagai insan manusia yang memiliki bakat emosional dan spiritual. Jangan sampai dengan adanya ICT sisi manusiawi kita akan hilang, dengan adanya teknologi maka budaya seni kita hilang, sopan santun dan tata cara bicara kita pun mengalami degradasi.














Knowledge Management dan Dunia Pendidikan
by Romi Satria Wahono
12 Desember 2006 setelah subuh berangkat ke Universitas Padjajaran (Unpad), Bandung untuk mengisi seminar yang mengambil tema Implementasi Knowledge Management di Perguruan Tinggi. Alhamdulillah ada Udin yang memberi kesempatan saya bisa tidur di mobil karena dia yang pegang kemudi dari Bekasi sampai Bandung Yang menarik bahwa acara seminar ini di dukung struktural Unpad, bahkan Rektor Unpad menyempatkan diri hadir untuk membuka acara. Tentu kita harus berterima kasih atas kerja keras mas Eddy Nurmanto sebagai penyelenggara dan provokator seminar sehingga bisa sukses seperti ini
Acara diselenggarakan di Gedung Perpustakaan Pusat (CISRAL) Unpad, yang dipimpin oleh bu Nurpilihan. Konon kabarnya bu Nurpilihan ini adalah jago lobi dan networkingnya cukup baik, dibuktikan dengan beberapa inovasi mengembangkan CISRAL menjadi lebih modern dan dinamis. Jujur saja sudah ratusan seminar saya datangi, baru kali ini saya sangat enjoy dengan setting tempat seminar Posisi pembicara yang dekat dengan peserta, model tempat duduk ala talkshow dan layar presentasi di 3-4 posisi, sangat menyenangkan bagi saya. Mungkin ini karena saya punya kebiasaaan berbicara sambil berdiri dan jalan ke sana sini dan memaksimalkan image dan animasi di presentasi Di seminar ini, saya tampil bersama pak A. Mukti Soma
(AVP. Knowledge Management PT Telkom) yang membawakan materi bagaimana knowledge management di implementasikan di PT Telkom.
Sesuai hasil diskusi dengan panitia, saya membawakan materi yang mengenalkan secara mudah kepada masyarakat apa dan mengapa knowledge management (pengelolaan pengetahuan), apa masalah yang ada di implementasi knowledge management untuk dunia pendidikan, dan yang terakhir juga panitia minta saya untuk men-share pengembangan IlmuKomputer.Com sebagai implementasi knowledge management dan learning organization (organisasi pembelajar) yang cukup riil.
Sistem Informasi Manajemen merupakan sistem informasi yang menghasilkan hasil keluaran (output) dengan menggunakan masukan (input) dan berbagai proses yang diperlukan untuk memenuhi tujuan tertentu dalam suatu kegiatan manajemen.

Tujuan Umum

Menyediakan informasi yang dipergunakan di dalam perhitungan harga pokok jasa, produk, dan tujuan lain yang diinginkan manajemen.
Menyediakan informasi yang dipergunakan dalam perencanaan, pengendalian, pengevaluasian, dan perbaikan berkelanjutan.
Menyediakan informasi untuk pengambilan keputusan.

Ketiga tujuan tersebut menunjukkan bahwa manajer dan pengguna lainnya perlu memiliki akses ke informasi akuntansi manajemen dan mengetahui bagaimana cara menggunakannya. Informasi akuntansi manajemen dapat membantu mereka mengidentifikasi suatu masalah, menyelesaikan masalah, dan mengevaluasi kinerja (informasi akuntansi dibutuhkan dam dipergunakan dalam semua tahap manajemen, termasuk perencanaan, pengendalian dan pengambilan keputusan).

Proses manajemen didefinisikan sebagai aktivitas-aktivitas:
Perencanaan, formulasi terinci untuk mencapai suatu tujuan akhir tertentu adalah aktivitas manajemen yang disebut perencanaan. Oleh karenanya, perencanaan mensyaratkan penetapan tujuan dan identifikasi metode untuk mencapai tujuan tersebut.

Pengendalian, perencanaan hanyalah setengah dari peretempuran. Setelah suatu rencana dibuat, rencana tersebut harus diimplementasikan, dan manajer serta pekerja harus memonitor pelaksanaannya untuk memastikan rencana tersebut berjalan sebagaimana mestinya. Aktivitas manajerial untuk memonitor pelaksanaan rencana dan melakukan tindakan korektif sesuai kebutuhan, disebut kebutuhan.

Pengambilan Keputusan, proses pemilihan diantara berbagai alternative disebut dengan proses pengambilan keputusan. Fungsi manajerial ini merupakan jalinan antara perencanaan dan pengendalian. Manajer harus memilih diantara beberapa tujuan dan metode untuk melaksanakan tujuan yang dipilih. Hanya satu dari beberapa rencana yang dapat dipilih. Komentar serupa dapat dibuat berkenaan dengan fungsi pengendalian.

SIM merupakan kumpulan dari sistem informasi:
Sistem informasi akuntansi (accounting information systems), menyediakan informasi dan transaksi keuangan.
Sistem informasi pemasaran (marketing information systems), menyediakan informasi untuk penjualan, promosi penjualan, kegiatan-kegiatan pemasaran, kegiatan-kegiatan penelitian pasar dan lain sebagainya yang berhubungan dengan pemasaran.
Sistem informasi manajemen persediaan (inventory management information systems).
Sistem informasi personalia (personnel information systems).
Sistem informasi distribusi (distribution information systems).
Sistem informasi pembelian (purchasing information systems).
Sistem informasi kekayaan (treasury information systems).
Sistem informasi analisis kredit (credit analysis information systems).
Sistem informasi penelitian dan pengembangan (research and development information systems).
Sistem informasi analisis software
Sistem informasi teknik (engineering information systems).
Cybercrime secara umum dapat diartikan sebagai sub katagori dari kejahatan komputer. Terminologi tersebut merujuk pada penggunaan internet atau jaringan komputer lainnya sebagai komponen dari kejahatan. Komputer dan jaringannya dapat dilibatkan dalam kejahatan terdiri dari beberapa jalan (Legal Framework For Combating Cybercrime 2002: 3-4):

1. Komputer sebagai alat (computer as a tool)
2. Komputer sebagai media penyimpanan (computer as a storage device)
3. Komputer sebagai target (computer as a target)

Namun demikian dalam ranah akademisi dan praktisi belum ada kesepakatan definisi mengenai kejahatan komputer (cybercrime), hal ini disebabkan perbedan sudut pandang dan penekanan para ahli tersebut. Ian Walden ( 2007: 20) menjelaskan bahwa ada perubahan paradigma dari penyalahgunaan komputer (computer abuse) kepada kejahatan komputer (cybercrime). Lebih lanjut ia menjelaskan bahwa perbedaan pendefinisian tersebut terkait dengan 5 (hal), yaitu:
(i) technology-based;
(ii) motivation-based;
(iii) outcome-based;
(iv) communication-based; dan
(v) information-based.

Pemahaman yang berdasar pada teknologi, memandang kejahatan tersebut dari teknologinya yaitu teknologi komputer. Pendekatan ini digunakan oleh Departemen Hukum Amerika Serikat[1] yang mengkatgorikan kejahatan ini menjadi 3 (tiga), yaitu: (i) komputer sebagai objek kejahatan, komputer sebagai subjek dari kejahatan, dan komputer sebagai instrumen kejahatan.
Pemahaman kedua adalah pemahaman yang berdasarkan pada motivasi atau dorongan pelaku tindak pidana (motivation-based) dari kejahatan komputer. Misalkan pendapat Thomas dan Loader ( 2000 : 6 -7)[2] yang mendefinisikan 3 (tiga) katagori pelaku kejahatan yaitu:
(i) hacker dan phreaks,
(ii) Information merchants, mercenaries dan terrorist, dan
(iii) exremist dan deviants.

Motivasi utama kelompok pertama adalah rasa keingintahuan bukan niat jahat. Sementara kelompok kedua, motivasinya ekonomi yaitu mendapatkan keuntungan berupa uang. Sementara kelompok terakhir, motivasinya lebih ke arah politik dan aktivitas sosial. Pemahaman ketiga adalah berdasarkan
pemahanan yang berlandaskan hasil ( outcome-based). Penganut pemahaman misalkan BloomBacker dalam The EDP Auditor Jurnal II (1999 : 39)[3] bahwa kategori dari kejahatan ini dapat dibedakan menjadi 3 (tiga) yaitu kejahatan terhadap orang (person), properti (property) dan negara. Sehingga dari ketiga kejahatan tersebut lebih lanjut menurutnya kejahatan dimaksud dapat dikelompokan menjadi 4 (empat), yaitu:
(i) cyber-violance,
(ii) Cyber-obsenity,
(iii) cyber-theft, dan
(iv) cyber-trespass.

Pemahaman keempat berdasarkan pada jaringan komunikasinya dibandingkan dengan perangkat komputernya (communication-based). Para ahli hukum dan praktisi yang melihat kejahatan ini berdasarkan sistem komunikasinya berpedapat bahwa kejahatan ini dapat dikatagorikan menjadi beberapa jenis, misalkan (i) ilegal communication misalkan penyebaran virus, barang-barang hasil pelanggaran hak cipta, pornografi); (ii) Unsolicited communication, misalkan Spam; (iii) unauthorized communication, misalkan hacking, DdoS attack.

Pemahaman terakhir adalah melihat kejahatan ini berdasarkan informasi (information-based). Informasi dapat menjadi target dari para pelaku kejahatan bahkan motivasi untuk melakukan kejahatan. Informasi sebagai target misalkan data kartu kredit dari website keuangan yang di-hack.

Pendefinisan cybercrime yang dianut dalam The Council of Europe Convention on Cybercrime. Menurut Walden (2007: 24) Apabila dilihat melalui pendekatannya maka konvensi ini mengantut pendekatan teknologi (technology-based) serta informasi (information-based). Kovensi tersebut secara subtansif membagi kejahatan komputer (cybercrime) menjadi empat, dimana disini direduksi menjadi tiga, yaitu: computer-related crime, content-related crime dan computer integrity offences.

Kategori pertama, merupakan kategori tradisional dari kejahatan yang menggunakan komputer sebagai instrumen kejahatan, misalkan penipuan. Kategori kedua, content-related crime, seperti pelanggaran terhadap hak cipta, pornografi, menekankan penggunaan komputer dan jaringannya sebagai sarana untuk pendistribusian informasi yang ilegal atau informasi yang melawan hukum. Walapun keduanya sama-sama menggunakan komputer sebagai alat atau instrumen dalam melakukan tindak pidana, namun keduanya tetap dapat dibendakan.
Ian Walden (2007: 23) mengatakan perbedaannya ialah dalam computer-related crime, data atau informasi yang merupakan hasil pemerosesan merupakan juga termasuk dalam pengertian alat atau instrumen untuk melakukan tindak pidana.

Sementara dalam content-related crime, data atau informasi adalah tindak pidana, bukan sebagai alat atau instrumen. Kategori ketiga, adalah tindak pidana yang lebih difokuskan khususnya pada aktivitas yang menyerang keutuhan atau integritas dari sistem komputer dan komunikasinya, seperti menyebarkan virus komputer.


ShoutMix chat widget